Selasa, 04 Maret 2014

Aku , Kamu , dan Dia




“Hatiku terbang di pulau nafasmu”
Aku sudah mengenangnya jauh didalam hati yang tak tergali hanya dengan datangnya dia yang baru . Tapi , langkah-langkah kecilmu , ketukan sepatumu , dan bola matamu yang selalu memberi pancaran teduh enggan sedikit saja menyingkir untuk yang lain . Masih saja kau bertahan kuat disana melawan malam yang selalu terbunuh oleh pagi . Bahkan setiap syukur yang aku peluk ada doaku yang melayang bersama riuhnya suara rindu yang selalu ingin bertemu . Namun , untuk bertatap dengan bola matamu saja aku sudah tak lagi mampu .
Membunuhmu di hatiku sama saja dengan memperjuangkanmu untuk tak melangkah dari hidupku . Mungkin kau sengaja membuat guratan di hatiku hingga cacat ini tak mampu lagi utuh seperti hati yang belum tersentuh . Akupun telah enggan untuk mengiris hati , kamu terlalu indah untuk dilewatkan dan terlalu buruk untuk ku kenang . Akupun berdiam membiarkanmu menjadi bayangan yang ada pada tembok , jalanan , dan otakku .

“Ketika cinta mengikat karena ego , bukan hati , maka salah satunya akan selalu di tekan batinnya”
Tuhan juga terlalu baik , menjadikanku perempuan yang terjebak pada cinta yang berdusta . Aku tak pernah ingin membuat luka di hati siapapun . Namun , justru yang berpotensi aku lukai ialah dia yang mencintaiku dengan egonya . Tapi , apa daya ketika perempuan telah di ikat oleh kehormatan yang di genggam pria ? Memilih yang aku cintaipun tak akan di biarkan pergi . Kamu mencintaiku dan aku akan mencintaimu untuk membahagiakanmu , tapi mungkinkah akan membahagiakanku juga ? Tentu tidak , walaupun aku akan bahagia setelah membahagiakan seseorang namun ini terlalu sadis untukku sendiri . Kamu menguasai seluruh ragaku , tapi menjadi pangeran yang memenangkan hatiku bukan lah kau .
Selamanya aku akan menjadi pendusta untukmu , untukku , dan mungkin untuk anak kita kelak . Lalu seberapa kuat kau hidup dalam kebohongan ini ? Bukankah suatu saat kau juga akan jenuh tentangku yang masih saja hidup pada bayangan masa lalu ? Lalu kau akan berlari pada yang lain , tanpa kau mau melepaskan aku . Bukan aku yang aku cemaskan , namun perjuangan yang akan disia-siakan nantinya . Kau sudah tau bahwa waktu begitu berarti , dan yang sudah terlewati takkan mungkin kembali . Tak maukah kau menggunakannya untuk hal yang bersih ? bukan untuk sekedar hidup bersama pendusta sepertiku .
“Sandiwara ini akan selalu menjadi jalan hidupmu , dan kau sendiri yang memilihnya untuk bertahan”
Mungkin aku akan selalu mampu tersenyum untukmu , membuatmu bahagia , namun cintamu takkan mampu meraba seberapa kencang aku menangis , seberapa sakit hatiku teriris , seberapa aku lelah melangkah dalam dosa ini . Ya , dosa karena menjadi perempuan yang selalu mendustai hatimu . Kau selalu enggan membiarkanku terbang jauh mencari sepasang bola mata yang begitu teduh layaknya senja sore di lautan yang kau tau sendiri bahwa aku tak menemukannya padamu .
Entah apa yang ada dalam isi otakmu , kamu begitu pandai berbicara namun kamu tak cukup pandai membaca hati . Yang kamu tau kebahagiaanmu sendiri yang akan kau ukir , namun kau tak pernah jauh berpikir adakah luka setiap kali kau bahagia ? Yang kau lakukan hanya berbicara untukku meyakini bahwa aku mampu mencintaimu selayaknya masalaluku yang masih terus menumbuhkan cinta di hidupku . Namun , aku saja hanya sebuah boneka yang selalu kau mainkan saat kau jenuh . Lalu aku hanya mengutip sebuah kalimat ‘Bahwa pria sejati takkan pernah memainkan boneka’ . Aku perempuan yang selayaknya ingin berjalan disamping pria yang aku cintai dan mencintaiku , melukis mimpi-mimpi masa depan , berjuang bersama meski harus merasakan duka . Bukan perempuan yang kau sembunyikan demi masa depanmu , demi kariermu , yang hanya kau datangi ketika kau lelah ingin berlalu sejenak dari tekanan-tekanan , dan setelah itu kau lemparkan lagi dalam lemari dank au tutup rapat-rapat . Sesakku selalu mengikat paru-paruku , tak pernah aku bernafas lega setiap hari-hariku hanya terkurung dalam ruangan gelap .
“Jika kau mencintaiku , cintai aku selayaknya perempuan . Jika aku berharga untukmu , biarkan aku terlihat dan melihat duniaku sendiri “
Aku tahu bagaimana mencintai tanpa memiliki , namun sadarkah kau dengan ketulusan yang begitu besar tak ada orang lain yang terluka . Lain ketika kita memaksakan harus memiliki , kamupun akan merasa terluka begitupun aku . Sadarlah sayang , kini harusnya kita mampu menerima jalan kita masing-masing . Namun , kau masih memilih jalan yang di penuhi duri . Bahkan aku berjalan dengan menatap jalan hidupku yang terenggut cintamu . Tak berartikah kebahagiaan orang yang katamu kau cintai ini ? tak berartikah tawa candaku yang sesungguhnya ? Lalu kau selalu selimuti dengan kabut luka , yang membuat ku redup dan merasa mendung di hari-hariku . Tak pernah ada mentari yang bersinar hanya hujan yang merundungku . Aku berjuang membahagiakanmu , namun enggankah kau merelakan sedikit kebahagiaanmu untukku ?
Suatu hari kau akan begitu menyesal bertahan padaku yang seperti ini . Kau mampu dan pantas mendapatkan perempuan yang kau cintai dan juga mencintaimu , yang sepadan denganmu dan maampu membuatmu bangga karena memilikinya , yang tentu saja tak kau temukan itu padaku .
“Aku hanya menunggu Tuhan mencairkan hatimu yang beku”
Kamu pria hebat yang dengan banyak ambisi-ambisi di hidupmu , sementara aku hanya perempuan yang selalu berjuang menguatkan diriku sendiri untuk menyambut waktu di setiap detiknya berubah untukmu sadar bagaimana aku padamu atau kau menemukan yang lain hingga akhirnya melepaskanku dengan ikhlas dan menatap senyumuku lekat sambil memeluk perempuan yang ada disampingmu . Lalu aku akan berlalu dengan doa-doa yang baik untukmu , untukku , dan yang pasti untuknya yang memiliki hatiku .