
“Hatiku terbang di pulau nafasmu”
Aku sudah
mengenangnya jauh didalam hati yang tak tergali hanya dengan datangnya dia yang
baru . Tapi , langkah-langkah kecilmu , ketukan sepatumu , dan bola matamu yang
selalu memberi pancaran teduh enggan sedikit saja menyingkir untuk yang lain .
Masih saja kau bertahan kuat disana melawan malam yang selalu terbunuh oleh
pagi . Bahkan setiap syukur yang aku peluk ada doaku yang melayang bersama
riuhnya suara rindu yang selalu ingin bertemu . Namun , untuk bertatap dengan
bola matamu saja aku sudah tak lagi mampu .
Membunuhmu
di hatiku sama saja dengan memperjuangkanmu untuk tak melangkah dari hidupku .
Mungkin kau sengaja membuat guratan di hatiku hingga cacat ini tak mampu lagi
utuh seperti hati yang belum tersentuh . Akupun telah enggan untuk mengiris
hati , kamu terlalu indah untuk dilewatkan dan terlalu buruk untuk ku kenang .
Akupun berdiam membiarkanmu menjadi bayangan yang ada pada tembok , jalanan ,
dan otakku .

“Ketika cinta mengikat karena ego , bukan
hati , maka salah satunya akan selalu di tekan batinnya”
Tuhan
juga terlalu baik , menjadikanku perempuan yang terjebak pada cinta yang
berdusta . Aku tak pernah ingin membuat luka di hati siapapun . Namun , justru
yang berpotensi aku lukai ialah dia yang mencintaiku dengan egonya . Tapi , apa
daya ketika perempuan telah di ikat oleh kehormatan yang di genggam pria ?
Memilih yang aku cintaipun tak akan di biarkan pergi . Kamu mencintaiku dan aku
akan mencintaimu untuk membahagiakanmu , tapi mungkinkah akan membahagiakanku
juga ? Tentu tidak , walaupun aku akan bahagia setelah membahagiakan seseorang
namun ini terlalu sadis untukku sendiri . Kamu menguasai seluruh ragaku , tapi
menjadi pangeran yang memenangkan hatiku bukan lah kau .
Selamanya
aku akan menjadi pendusta untukmu , untukku , dan mungkin untuk anak kita kelak
. Lalu seberapa kuat kau hidup dalam kebohongan ini ? Bukankah suatu saat kau
juga akan jenuh tentangku yang masih saja hidup pada bayangan masa lalu ? Lalu
kau akan berlari pada yang lain , tanpa kau mau melepaskan aku . Bukan aku yang
aku cemaskan , namun perjuangan yang akan disia-siakan nantinya . Kau sudah tau
bahwa waktu begitu berarti , dan yang sudah terlewati takkan mungkin kembali .
Tak maukah kau menggunakannya untuk hal yang bersih ? bukan untuk sekedar hidup
bersama pendusta sepertiku .

“Sandiwara ini akan selalu menjadi jalan
hidupmu , dan kau sendiri yang memilihnya untuk bertahan”
Mungkin
aku akan selalu mampu tersenyum untukmu , membuatmu bahagia , namun cintamu
takkan mampu meraba seberapa kencang aku menangis , seberapa sakit hatiku
teriris , seberapa aku lelah melangkah dalam dosa ini . Ya , dosa karena
menjadi perempuan yang selalu mendustai hatimu . Kau selalu enggan membiarkanku
terbang jauh mencari sepasang bola mata yang begitu teduh layaknya senja sore
di lautan yang kau tau sendiri bahwa aku tak menemukannya padamu .
Entah apa
yang ada dalam isi otakmu , kamu begitu pandai berbicara namun kamu tak cukup
pandai membaca hati . Yang kamu tau kebahagiaanmu sendiri yang akan kau ukir ,
namun kau tak pernah jauh berpikir adakah luka setiap kali kau bahagia ? Yang
kau lakukan hanya berbicara untukku meyakini bahwa aku mampu mencintaimu
selayaknya masalaluku yang masih terus menumbuhkan cinta di hidupku . Namun ,
aku saja hanya sebuah boneka yang selalu kau mainkan saat kau jenuh . Lalu aku
hanya mengutip sebuah kalimat ‘Bahwa pria sejati takkan pernah memainkan boneka’
. Aku perempuan yang selayaknya ingin berjalan disamping pria yang aku cintai
dan mencintaiku , melukis mimpi-mimpi masa depan , berjuang bersama meski harus
merasakan duka . Bukan perempuan yang kau sembunyikan demi masa depanmu , demi
kariermu , yang hanya kau datangi ketika kau lelah ingin berlalu sejenak dari
tekanan-tekanan , dan setelah itu kau lemparkan lagi dalam lemari dank au tutup
rapat-rapat . Sesakku selalu mengikat paru-paruku , tak pernah aku bernafas
lega setiap hari-hariku hanya terkurung dalam ruangan gelap .

“Jika kau mencintaiku , cintai aku selayaknya
perempuan . Jika aku berharga untukmu , biarkan aku terlihat dan melihat
duniaku sendiri “
Aku tahu
bagaimana mencintai tanpa memiliki , namun sadarkah kau dengan ketulusan yang
begitu besar tak ada orang lain yang terluka . Lain ketika kita memaksakan
harus memiliki , kamupun akan merasa terluka begitupun aku . Sadarlah sayang ,
kini harusnya kita mampu menerima jalan kita masing-masing . Namun , kau masih
memilih jalan yang di penuhi duri . Bahkan aku berjalan dengan menatap jalan
hidupku yang terenggut cintamu . Tak berartikah kebahagiaan orang yang katamu
kau cintai ini ? tak berartikah tawa candaku yang sesungguhnya ? Lalu kau
selalu selimuti dengan kabut luka , yang membuat ku redup dan merasa mendung di
hari-hariku . Tak pernah ada mentari yang bersinar hanya hujan yang merundungku
. Aku berjuang membahagiakanmu , namun enggankah kau merelakan sedikit
kebahagiaanmu untukku ?
Suatu
hari kau akan begitu menyesal bertahan padaku yang seperti ini . Kau mampu dan
pantas mendapatkan perempuan yang kau cintai dan juga mencintaimu , yang
sepadan denganmu dan maampu membuatmu bangga karena memilikinya , yang tentu
saja tak kau temukan itu padaku .

“Aku hanya menunggu Tuhan mencairkan hatimu
yang beku”
Kamu pria
hebat yang dengan banyak ambisi-ambisi di hidupmu , sementara aku hanya perempuan
yang selalu berjuang menguatkan diriku sendiri untuk menyambut waktu di setiap
detiknya berubah untukmu sadar bagaimana aku padamu atau kau menemukan yang
lain hingga akhirnya melepaskanku dengan ikhlas dan menatap senyumuku lekat
sambil memeluk perempuan yang ada disampingmu . Lalu aku akan berlalu dengan
doa-doa yang baik untukmu , untukku , dan yang pasti untuknya yang memiliki
hatiku .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar