Selasa, 25 Februari 2014



Saat menulis ini mungkin saya sedang tak sanggup menyimpannya sendiri dan tak  ada mata yang sanggup saya tatap tajam ..
Hello ,
Rasanya sudah lama sekali tidak menuangkan kegelisahan dalam butir-butir kata . Ya tapi aku selalu merindukan bagaimana aku mengungkapkan kegelisahan dalam goresan-goresan ini . Saya sedang terpukul belakangan ini . Merasa di kecewakan dan di sia-siakan . Tapi , hal-hal seperti ini memang harus selalu saya hadapi di setiap langkah hidup . Rasa sakit tidak akan pernah hilang , ya tidak semudah itu untuk tidak berbekas . Bahkan hingga nanti saya menua semua ini akan menjadi sajak elegi hidup yang mungkin bisa saja saya bagi dengan anak-anak saya kelak agar mereka selalu bersyukur dalam situasi kehidupan yang tidak dapat di raba .

Namun dalam hati kecil saya , pelukan syukur tak pernah enggan merangkul menyapa di setiap gelak tawa dan mengusap di setiap tetesan air mata . Apalah arti pukulan batu yang selalu menjadi penghalang langkah , jika kita saja hanya menyalahkan Tuhan dan menuntut keadilan-Nya . Bukankah di setiap peristiwa memiliki dua sisi yang sama-sama harus mampu kita lihat ? seperti halnya kebahagiaan tidak selamanya baik untuk kita karena perlu juga kita merasakan kesedihan untuk mengartikan bahagia dan menghargai setiapnya datang .

Dan kebahagiaan juga syukur yang tak pernah padam untuk saya nyalakan karena Tuhan sudah memberikan saya kehidupan yang begitu dahsyat , melahirkan saya di tengah-tengah keluarga yang sangat kaya akan kasih sayang , tutur yang lembut , dan keluarga yang selalu mengajarkan saya untuk sabar . Membawakan kekuatan dan ketegaran dalam setiap langkah . Tidak sampai disitu , Tuhan meletakkan saya di sekeliling manusia yang tak pernah berhenti mengajarkan saya kehidupan , dan saya yakin mengapa mereka menyayangi saya karena saya juga sangat menyayangi mereka tanpa ada tuntutan untuk membalasnya satu sama lain . Lalu tidak pantaslah jika saya mengeluh akan kerikil tajam yang menjadikan jalan saya sulit untuk di lalui , karena disana Tuhan memberikan alas kaki besi hingga aku tak merasakan sakitnya menginjak kerikil itu .

Dengan didikan yang seperti itu pula membuat orang lain menilai saya gadis yang melankolis dan begitu berperasaan . Saya menerimanya dengan senang hati , toh ini bukan sebuah cacian . Saya membenarkan penilaian itu tapi , di balik melankolis saya ada kekuatan yang tak pernah orang lain sangka . Keluarga yang seperti itu pula yang selalu membukakan mata hati saya bahwa hidup memang hanya perlu ikhlas , ya ikhlas tanpa diucapkan akan tetapi dengan bersikap ,dan sabar yang tak terbatas agar senantiasa hati kita lapang untuk menerima segala kemungkinan yang akan begitu menyakitkan .

Jika mampu menilai diri saya sendiri , saya adalah orang yang begitu kejam pada diri saya sendiri . Saya suka membahagiakan orang lain , karena ketika mereka bahagia ada kebahagiaan yang lebih besar menyelimuti hati saya . Dan yang sampai sekarang tidak saya ketahui ini sebuah kelemahan atau kelebihan adalah saya tidak pernah mudah membagi beban berat saya kepada orang-orang dekat saya , dan saya mampu menutupinya dengan senyuman lalu memendamnya bertahun-tahun . Hingga ketika rasa jenuh itu memuncak saya kehilangan kekuatan hidup saya begitu kilat akibat tekanan mental dan batin yang tertahan .

Namun kembali lagi saya memang tidak seharusnya khawatir atas apa-apa yang nanti menimpa saya , karena saya yakin jika sudah tidak ada pundak untuk bersandar masih ada lantai untukku bersujud . Tuhan tidak akan meninggalkan hambanya dan tidak akan mengusirnya pergi meski datang dengan peluh air mata . Sesetia itu Tuhan pada manusia , dan kita hanya butuh 10 menit di sela kesibukkan kita untuk datang menyapa-Nya .
Kini saya semakin menyadari bahwa setiap harinya usia yang semakin bertambah akan membawa langkah hidup pada jalan yang lebih curam , akan tetapi selalu bergandengan dengan doa dan usaha semua itu akan berlalu semanis coklat .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar